Imam Junaid al-Baghdadi rahimahullah bertutur:
Aku pernah ditanya apa yang mampu dicegah oleh hikmah? Kemudian aku menjawab, “Hikmah mampu mencegah segala sesuatu yang mendatangkan penyesalan pada kemudian hari. Hikmah mencegah dari segala sesuatu yang dapat menjadikanmu benci ketika mengingatnya, walaupun orang lain tidak mengetahuinya.”
Si Fulan bertanya lagi. “Terhadap hal apa hikmah akan memerintah?”
Aku pun menjawab, “Hikmah akan terus mengajak melakukan segala sesuatu yang pengaruhnya akan terus dipuji pada kemudian hari. Beritanya akan terus harum di khalayak umum dan aman dari akibat buruknya.”
Si Fulan menimpali lagi. “Lalu, siapakah yang berhak disematkan sifat sebagai ahli hikmah?”
Aku menjawab, “Ahli hikmah adalah orang yang ketika berbicara mampu mencapai cakupan luas serta tujuan nyata terhadap suatu hal yang dimaksud dengan ungkapan yang singkat dan isyarat yang ringkas. Ahli hikmah juga orang yang selalu optimis terhadap suatu hal yang diinginkan. Menurutnya, semua itu pasti hadir dan akan datang.”
Si Fulan bertanya lagi. “Lalu, terhadap siapakah hikmah merasa tenang, tenteram, dan bersemayam?”
Aku menjawab, “Hikmah hadir dalam diri orang yang berusaha mengurangi segala sesuatu yang diharapkan, orang yang tidak berlebihan dalam setiap hajatnya, orang-orang yang setiap keinginan dan perbuatannya ditujukan hanya kepada Allah, dan orang-orang yang tingkat manfaatnya bisa dirasakan oleh setiap individu pada zamannya. “
[Sumber: Hilyah al-Auliyaa, jilid 10, hlm. 262]
Tinggalkan Balasan