Al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah berkata:
فَإِنَّ الشُّجَاعَ مُنْشَرِحَ الصَّدْرِ، وَاسِعُ الْبِطَانِ، مُتَّسِعُ الْقَلْبِ، وَالْجَبَانُ: أَضْيَقُ النَّاسِ صَدْرًا وَأَحْصَرَهُمْ قَلْبًا، لَا فَرْحَةَ لَهُ وَلَا سُرُورَ، وَلَا لَذَّةَ لَهُ، وَلَا نَعِيمَ، إِلَّا مِنْ جِنْسٍ مَا لِلْحَيَوَانِ الْبَهِيمِيِّ، وَأَمَّا سُرُورُ الرُّوحِ وَلَذَّتُهَا وَنَعِيمُهَا وَابْتِهَاجُهَا فَمُحَرَّمٌ عَلَى كُلِّ جَبَانٍ.
“Sesungguhnya seorang pemberani lapang dadanya, luas pikirannya, longgar hatinya. Sedangkan seorang pengecut adalah orang yang paling sempit dadanya dan paling terkekang hatinya, dia tidak memiliki kesenangan, kegembiraan, kelezatan, dan kenikmatan, kecuali seperti yang dirasakan oleh hewan. Adapun kegembiraan jiwa, kelezatannya, kenikmatannya, dan keceriaannya maka tidak akan mungkin diraih oleh semua orang yang penakut.”
[Sumber: Zaadul Ma’ad, jilid 2, hlm. 25]
Tinggalkan Balasan