quote para ulama, penggugah pikiran dan kesadaran

Hakikat Taubat

Imam Junaid al-Baghdadi rahimahullah bercerita. Pada suatu hari, aku mengunjungi Syekh Sari as-Saqathi. Aku melihatnya dalam keadaan gundah gulana. Kemudian aku bertanya kepadanya, “Wahai Syekh, ada apa gerangan yang membuatmu bermuram durja?”

Dia menjawab, “Tadi ada seorang pemuda bertanya kepadaku tentang hakikat taubat.”

Aku berkata, “Bukankah hakikat taubat menurutmu adalah jangan sampai melalaikan suatu hal yang dapat melahirkan taubat.”
Dia pun menjawab, “Bukan seperti itu, hakikat taubat menurut kami.” Aku pun bertanya kepadanya, “Lalu, apa hakikat dari tobat menurutmu?”

Dia menjawab,

حَقِيقَةُ التَّوْبَةِ أَنْ لَا تَذْكُرَ مَا مِنْ أَجْلِهِ كَانَتْ التَّوْبَةُ

“Hakikat taubat adalah ketika engkau tidak lagi mengingat kesalahan yang menjadikanmu bertauat.”

Aku pun terus memikirkan perkataannya tersebut, “Betapa indahnya, perkataan yang telah diucapkan Syekh Sari!”

la melanjutkan ceritanya tersebut, “Syekh Sari lantas bertanya kepadaku, “Wahai Junaid, apa maksud dari ungkapanmu itu?” Aku menjawab, “Wahai Ustadz, ketika aku berada bersamamu dalam keterasingan. Kemudian engkau memindahkanku dari keterasingan itu menuju kemurnian dan kesucian. Ingatanku terhadap keterasingan, di saat aku sudah berada dalam kesucian, itulah hakikat kealpaan.”

[Sumber: Tahdzib Hilyah al-Auliyaa, jilid 3, hlm. 384]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *